Langsung ke konten utama

Postingan

Refleksi Dewasa dalam Dunia yang Terlalu Cepat

Haiiii, Orang Dewasa... How's your day?  Bagaimana harimu saat ini? apa sudah merasa senang karena sekarang tidak lagi ada yang mengomel jika kamu nggak tidur siang? atau malah pengen hal itu diulang kembali karena sekarang, di usia yang bukan lagi anak-anak, tidur siang terasa seperti hadiah berharga, bukan? Dulu, sewaktu kamu kecil beranggapan bahwa dunia orang dewasa selalu tampak menyenangkan ya, bebas dari segala larangan. Kamu yang belum tahu banyak, sering berharap bisa cepat tumbuh dewasa, membayangkan kebebasan untuk melakukan apa pun yang kita inginkan. Namun, kini bagaimana? dunia orang dewasa ternyata terlalu menakutkan bagi kamu yang masih sering merasa seperti anak-anak. Tubuh ringkihmu sangat jarang mendapat pelukan bahkan hampir tidak pernah, dan sekarang rasanya sudah tidak bisa lagi mengadu pada mama, karena rumah pun bertumpu pada kamu. Beban dunia orang dewasa terasa semakin berat, seakan semua harapan dan kekuatan keluarga terletak di pundak kamu.  Hai man...

"Rooftop Confessions: Meredam Keretakan Hati di Balik Ketenangan".

Kay terdiam sejenak, merenung pada keputusasaan yang menyelimutinya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengungkapkan keretakan hatinya. Kay saat ini sedang berada di rooftop rumahnya, tempat biasa ia menenangkan diri. Karena kesunyian adalah situasi yang paling ia sukai, ia dapat dengan tenang meluapkan rasa sakitnya melalui air mata, tanpa perlu khawatir bahwa orang lain akan ikut merasakan sakitnya. Kebiasaannya menyimpan semua dukanya sendiri membuatnya enggan menunjukkan kerapuhannya pada siapa pun, sehingga orang lain sulit melihat seberapa dalam luka yang dimiliki wanita cantik itu. "Bolehkah jika aku menampakkan keretakan hati yang menyakitiku saat ini?  Aku telah merasa sehancur ini melihat orang yang kucintai bahagia, tetapi bukan aku sumbernya. Aku ingin merasa tidak tahu diri untuk tetap mengejarnya, meskipun aku sudah tahu bahwa dia telah melarikan diri jauh dan menciptakan jarak di antara kita, tapi tidak masalah. Aku relakan energi...

"Melodi Kehidupan: Perjalanan Meredam Isi Kepala yang Riuh"

Hari ini, seperti biasa ibu kota ramai. Tapi riuhnya kalah saing dengan isi kepala. Belum selesai dengan segelas kopi susu di meja. Sang puan mulai mempertanyakan, ia paham betul bagaimana harus memposisikan diri . " Sudah berapa kali hari ini kamu mendengarkan lagu itu?" "Ntahlah. Beberapa hari ini, setiap kali aku terbangun, tidak ada apa-apa dalam kepalaku. Hanya ada Tom DeLonge yang berulang kali menyanyikan lagu Rote of Spring. Tubuhku baik-baik saja. Hati dan pikiranku tidak" "Kamu ingin tau sesuatu yang tidak kalah penting dengan dialog yang ada di kepalamu itu?" Sanggupku hanya menggeleng seperti anak kecil yang sedang merajuk. "Hidup itu bukan trek balapan, kalaupun iya, setiap manusia mempunyai trek yang berbeda. Because we were different. Jangan mau kalah dengan isi kepala yang terus meributkan hal yang sama berulang kali. You've endured the pain, i know it" Ia selalu mahir sekali meredam apa yang ada di kepala. "berkeluh kesa...

"Menapaki Jalan Dewasa: Antara Ekspetasi, Ketakutan, dan Harapan"

Saat ini sedang merasakan semua dibuka dan ditata sendiri. Banyak sekali pertanyaan yang mengitari otakku. Apa itu dewasa? Kenapa harus menjadi dewasa? Kenapa proses pendewasaan selelah ini? Menjadi dilahirkan dan masuk ke fase tumbuh-menjadi-dewasa mungkin memang bukan hal yang bisa dikendalikan. Dimana diri ini sudah mulai khawatir tentang masa depan dan orang-orang sekitar  yang  menganggap dewasa serta menaruh ekspetasi tinggi terhadap diri ini. Disaat orang-orang sekitar yang sebaya sudah mulai mengumpulkan pundi-pundi, manusia satu  ini masih sibuk dengan uang orang tua untuk berkutik dengan materi kuliah setiap hari. Saya takut mengecewakan ekspetasi mereka yang lebih terhadap saya. Saya takut ketika saya gagal, mereka tidak bisa menerima saya. Rasanya seperti anak yang baru mulai belajar berjalan sendiri lalu terhantam oleh badai ekspetasi yang tidak terpenuhi. Namun ketika saya dilahirkan orang tua saya tidak pernah berjanji kepada saya bahwa hidup ini akan gampa...