Langsung ke konten utama

Postingan

Learn, Forgive, Grow

Hidup tidak selalu bisa kita kendalikan. Jika sesuatu memang harus terjadi, biarkan mengalir sebagaimana mestinya. Jangan merasa bodoh hanya karena orang lain tidak memahami perjuangan kamu. Selama sudah berusaha itu sudah cukup. Kalau dunia ini sedang kacau, biarkan saja terjadi. Kalau rencanamu tidak berjalan sesuai harapan let it happen. Without asking why you’re stupid saat kamu sudah berusaha sebaik mungkin.   It’s oke  jika dunia meremehkan kamu, bahkan saat kamu berjuang habis-habisan. Karena pada dasarnya, akan selalu ada orang yang bilang “kamu tidak baik” . Meski menurut mereka usahamu kurang, kamu tau sendiri kan? Itu tetap sebuah pencapaian besar. Jangan hancurkan mental mu dengan memaksakan sesuatu yang seharusnya terjadi dengan sendirinya. Mereka yang tidak menyukai kamu akan selalu menganggap kamu buruk. Sudahlah, cukup. Saat kamu akhirnya menyadari bahwa… “kamu sudah menjadi orang baik, kok” . Usahamu sudah setara dengan mereka yang lebih tinggi ...
Postingan terbaru

"Aku gamau jadi seperti ibu!"

Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nala. “Apa ini, Nala? Kamu merokok? ” suara Ayah menggelegar, penuh amarah yang tak terbendung. Nala terdiam, mencoba menahan perih yang menjalar di pipinya. Dengan suara lirih, ia berbisik, “Ayah… Ayah kan bisa bertanya dulu tanpa harus menggunakan kekerasan?” Namun, kata-katanya hanya menambah bara di hati Ayah. “Kamu itu, Nala, nggak bisa diberi tahu dengan cara baik-baik! Sekarang jawab Ayah, ini rokok milik siapa?” Nala menatap Ayah dengan mata yang mulai basah, rasa sakit di dadanya jauh lebih besar daripada di wajahnya. Dengan suara bergetar, ia menjawab, “Kalaupun Nala bilang itu milik teman Nala, Ayah pasti tetap tidak akan percaya. Tamparan Ayah tadi sudah cukup menjelaskan segalanya, kan? Jadi, apa lagi yang harus Nala katakan?” Air mata mengalir perlahan di pipi Nala, membawa semua luka yang selama ini ia simpan dalam hati. “Sudah, Yah. Biar Ibu saja yang bicara dengan Nala,” ujar Ibu, mencoba meredakan ketegangan. Ayah mendengu...

Keadilan dalam Pertarungan Hidup: Sebuah Refleksi

Di sebuah kantor yang sepi menjelang gelap, Kai dan Sam tenggelam dalam layar komputer masing-masing. Bukan hal baru bagi mereka berdua untuk mengambil lembur mendadak, sering kali karena situasi pribadi yang mendesak. Ketika heningnya malam mulai terasa, tiba-tiba Kai menarik napas panjang, wajahnya tampak lelah. Ia pun berbisik, “Sampai kapan ya harus kaya gini terus.”  Mendengar keluhan itu, Sam menoleh ke arah Kai yang duduk tepat di sebelahnya. Dengan nada seolah tak peduli, ia bertanya, “Kenapa lo?” Namun, di balik nada cueknya, ada perhatian tersirat yang selalu ia tunjukkan dalam caranya sendiri. Sam dan Kai adalah dua sahabat lama yang telah saling mengenal jauh sebelum mereka bekerja di kantor ini. Persahabatan mereka terjalin sejak masa kuliah, penuh dengan tawa, perjuangan, dan berbagai cerita yang membentuk ikatan kuat di antara keduanya. Kini, bertahun-tahun kemudian, mereka kembali duduk berdampingan, berbagi keluh kesah pekerjaan dan momen-momen lelah dalam suasana ...

Refleksi Dewasa dalam Dunia yang Terlalu Cepat

Haiiii, Orang Dewasa... How's your day?  Bagaimana harimu saat ini? apa sudah merasa senang karena sekarang tidak lagi ada yang mengomel jika kamu nggak tidur siang? atau malah pengen hal itu diulang kembali karena sekarang, di usia yang bukan lagi anak-anak, tidur siang terasa seperti hadiah berharga, bukan? Dulu, sewaktu kamu kecil beranggapan bahwa dunia orang dewasa selalu tampak menyenangkan ya, bebas dari segala larangan. Kamu yang belum tahu banyak, sering berharap bisa cepat tumbuh dewasa, membayangkan kebebasan untuk melakukan apa pun yang kita inginkan. Namun, kini bagaimana? dunia orang dewasa ternyata terlalu menakutkan bagi kamu yang masih sering merasa seperti anak-anak. Tubuh ringkihmu sangat jarang mendapat pelukan bahkan hampir tidak pernah, dan sekarang rasanya sudah tidak bisa lagi mengadu pada mama, karena rumah pun bertumpu pada kamu. Beban dunia orang dewasa terasa semakin berat, seakan semua harapan dan kekuatan keluarga terletak di pundak kamu.  Hai man...

"Rooftop Confessions: Meredam Keretakan Hati di Balik Ketenangan".

Kay terdiam sejenak, merenung pada keputusasaan yang menyelimutinya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengungkapkan keretakan hatinya. Kay saat ini sedang berada di rooftop rumahnya, tempat biasa ia menenangkan diri. Karena kesunyian adalah situasi yang paling ia sukai, ia dapat dengan tenang meluapkan rasa sakitnya melalui air mata, tanpa perlu khawatir bahwa orang lain akan ikut merasakan sakitnya. Kebiasaannya menyimpan semua dukanya sendiri membuatnya enggan menunjukkan kerapuhannya pada siapa pun, sehingga orang lain sulit melihat seberapa dalam luka yang dimiliki wanita cantik itu. "Bolehkah jika aku menampakkan keretakan hati yang menyakitiku saat ini?  Aku telah merasa sehancur ini melihat orang yang kucintai bahagia, tetapi bukan aku sumbernya. Aku ingin merasa tidak tahu diri untuk tetap mengejarnya, meskipun aku sudah tahu bahwa dia telah melarikan diri jauh dan menciptakan jarak di antara kita, tapi tidak masalah. Aku relakan energi...

"Melodi Kehidupan: Perjalanan Meredam Isi Kepala yang Riuh"

Hari ini, seperti biasa ibu kota ramai. Tapi riuhnya kalah saing dengan isi kepala. Belum selesai dengan segelas kopi susu di meja. Sang puan mulai mempertanyakan, ia paham betul bagaimana harus memposisikan diri . " Sudah berapa kali hari ini kamu mendengarkan lagu itu?" "Ntahlah. Beberapa hari ini, setiap kali aku terbangun, tidak ada apa-apa dalam kepalaku. Hanya ada Tom DeLonge yang berulang kali menyanyikan lagu Rote of Spring. Tubuhku baik-baik saja. Hati dan pikiranku tidak" "Kamu ingin tau sesuatu yang tidak kalah penting dengan dialog yang ada di kepalamu itu?" Sanggupku hanya menggeleng seperti anak kecil yang sedang merajuk. "Hidup itu bukan trek balapan, kalaupun iya, setiap manusia mempunyai trek yang berbeda. Because we were different. Jangan mau kalah dengan isi kepala yang terus meributkan hal yang sama berulang kali. You've endured the pain, i know it" Ia selalu mahir sekali meredam apa yang ada di kepala. "berkeluh kesa...

"Menapaki Jalan Dewasa: Antara Ekspetasi, Ketakutan, dan Harapan"

Saat ini sedang merasakan semua dibuka dan ditata sendiri. Banyak sekali pertanyaan yang mengitari otakku. Apa itu dewasa? Kenapa harus menjadi dewasa? Kenapa proses pendewasaan selelah ini? Menjadi dilahirkan dan masuk ke fase tumbuh-menjadi-dewasa mungkin memang bukan hal yang bisa dikendalikan. Dimana diri ini sudah mulai khawatir tentang masa depan dan orang-orang sekitar  yang  menganggap dewasa serta menaruh ekspetasi tinggi terhadap diri ini. Disaat orang-orang sekitar yang sebaya sudah mulai mengumpulkan pundi-pundi, manusia satu  ini masih sibuk dengan uang orang tua untuk berkutik dengan materi kuliah setiap hari. Saya takut mengecewakan ekspetasi mereka yang lebih terhadap saya. Saya takut ketika saya gagal, mereka tidak bisa menerima saya. Rasanya seperti anak yang baru mulai belajar berjalan sendiri lalu terhantam oleh badai ekspetasi yang tidak terpenuhi. Namun ketika saya dilahirkan orang tua saya tidak pernah berjanji kepada saya bahwa hidup ini akan gampa...